fbpx
Kebohongan Yang Dibolehkan Dalam Islam

Kebohongan Yang Dibolehkan Dalam Islam

Kebohongan Yang Dibolehkan Dalam Islam
Kebohongan Yang Dibolehkan Dalam Islam

Berbohong haram hukumnya dalam Islam. Sebab berbohong atau berkata dusta termasuk salah satu ciri manusia munafik yang sangat dibenci ALLAH SWT. Dan sifat munafik akan menempatkan seorang manusia ke dalam golongan yang tarafnya lebih rendah dari manusia biasa lainnya. Dalam sebuah kita Sahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda,

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanh dia berkhianat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Berbohong adalah kebiasaan buruk yang sengaja atau tidak sengaja dilakukan oleh banyak orang. Namun Nabi SAW menyatakan bahwa berbohong bukanlah sifat seorang mukmin, seorang mukmin bisa saja bersifat bakhil dan penakut namun tidak mungkin dia berbohong karena tahu Islam melarangnya dan hukumnya haram.

Mengapa Berbohong Itu Haram?

            Jika ada seorang teman yang berbohong dan kita mengetahuinya, apa yang kita rasakan? Dan bagaimana pandangan kita setelahnya? Kita pasti akan merasa tidak nyaman berda di dekatnya dan menganggapnya sebagai orang yang tidak bisa dipercaya, apalagi jika dia sering melakukan kebohongan itu. Kita tidak akan percaya lagi padanya sekalipun dia sedang berbicara benar. Berbohong seringkali merugikan orang lain yang dibohongi, namun sebenarnya efek buruk dari sebuah kebohongan lebih banyak dirasakan oleh orang yang melakukan berbohong.

Sebutan pembohong dan rasa tidak dipercaya akan tertuju padanya bahkan bisa sampai dikucilkan di lingkungannya. Berbohong itu haram sebagaimana penjelasan yang terdapat dalam Al Quran surat An Nahl ayat 105: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.” (QS. An Nahl :105)

Kapankah Bohong Dibolehkan?

            Hukum Islam memang menyatakan haram untuk berbohong, namun ada saat kondisi tertentu dimana berbohong itu boleh dilakukan yaitu disaat terpaksa dan dalam situasi darurat. Keadaan terpaksa  yang dimaksud disini adalah keadaan dimana aseseorang tidak mampu menghindari dirinya dari kebohongan sebab ditakutkan terjadi sesuatu yang menimpa kehidupannya atau keluarganya yang berarti kebohongan itu dilakukan dalam keadaan terdesak, seperti yang dicontohkan dalam Al Quran surat An Nahl ayat 106 yang berbunyi,

“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan ALLAH), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkandadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah  SWT menimpanya dan mereka akan mendapatazab yang besar. (QS. An Nahl:106)

Namun, pikirkanlah dahulu sebelum berbohong apakah itu termasuk dalam situasi terpaksa atau tidak, agar kita tidak salah dalam berucap dan berkata-kata

3 Perkara Yang Membolehkan Berbohong

            Bersifat jujur merupakan kewajiban bagi seorang muslim. Namun dalam situasi tertentu bohong dibolehkan atau ditolerir sebab dinilai akan membawa situasi menjadi lebih baik. 3 perkara yang membolehkan seorang muslim itu berbohong dalam islam seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, Nabi bersabda,

”Rasulullah tidak mentolerir suatu kebohongan kecuali dalam 3 perkara: (a) untuk kebaikan, (b) dala keadaan perang, (c) suami membohongi istri dan istri membohongi suami (demi menyenangakan hatinya). 

Berdasarkan hadist Nabi tersebut dapat disimpulkan bahwa Islam masih membolehkan umatnya untuk berbohong jika mereka berada dalam situasi:

  1. Berbohong Untuk Kebaikan

Berbohong untuk kebaikan biasanya dilakukan untuk mendamaikan dua orang yang sedang bertikai. Kebohongan ini biasanya dengan melebih-lebihkan kebaikan keduanya agar mereka tersadar dan bersedia untuk saling memaafkan dan berdamai.

2. Kebohongan Dalam Perang

Banyak sekali kebohongan yang terjadi di dalam perang. Kebohongan dalam perang itu misalkan saat sedang mengatur siasat perang. Kebohongan ini diperlukan untuk membuat mengecoh musuh dan membuat mereka gentar dan ketakutan.

Baca Juga: Inilah 2 Jenis Marah Dalam Islam

3. Kebohongan Antara Suami Istri

Kebohongan antar suami istri yang dimaksud disini bukanlah kebohongan yang dilakukan untuk menyembunyikan kesalahan atau keburukan salah satu pasangannya, namun justru kebohongan yang dilakukan dengan tujuan untuk menyenangkan hati pasangannya. Misalkan saja seorang suami yang memuji masakan istrinya dan mengatakan enak walau sebenarnya tidak enak semata-mata demi menghargai jerih payah istrinya yang telah memasakkan masakan itu untuknya.. Ketigah perkara di atas janganlah menjadi alasan penyebab utama seseorang dalam melakukan kebohongan. Sebab Islam selamanaya melarang umatnya untuk berbohong karena berbohong hukumnya haram. Jikapun terpaksa melakukannya haruslah dalam keadaan yang memenuhi syarat 3 perkara yang membolehkan seseorang itu untuk berbohong, namun tentu saja harus tetap dalam batas tertentu dan tidak boleh berlebihan.

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 5)

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 5)

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 5)
Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 5)

Seiring bergantinya zaman, berbakti pada orang tua juga semakin memudar. Namun meski demikian, kita tidak benar-benar kehilangan generasi Islam yang tetap mempelajari agama, termasuk yang mempelajari adab anak pada orang tuanya. 

Semoga dengan ulasan singkat ini, kita termasuk golongan generasi Islam yang tak lupa mempelajari adab berbakti pada orang tua. Dan semoga Allah memudahkan kita untuk menerapkan amal baik Birrul Waalidain ini dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 4)

Adab Anak Kepada Kedua Orang Tua

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia, namun ia bodoh dalam urusan akhiratnya.” (Shahih Jami’ Ash Shaghir). Oleh karena itu, mempelajari seperti apa berbakti pada orang tua termasuk bagian dari menambah pengetahuan kita untuk urusan akhirat. 

Kembali kita mengulas lanjutan pembahasan sebelumnya yaitu “Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 1), (Bagian 2), (Bagian 3) dan (Bagian 4)” 

11. Merawat orang tua yang sakit dan lemah dengan penuh kesabaran, ketulusan dan keikhlasan 

Siapa umat Islam yang tidak pernah mendengar nama Uwais al-Qarni, sosok penghuni surga yang menjadi teladan sejak masa khalifah hingga kini meskipun masa telah berlalu 14 abad silam. Uwais al-Qarni seorang fakir yang berasal dari Yaman tetapi tak pernah berjumpa Rasulullah. Namun, sosoknya justru dikagumi oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebuah hadist riwayat Ahmad mencatat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan kepada para sahabatnya, 

Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia (Uwais al-Qarni), maka mintalah doa dan istighfarnya. Dia (Uwais al-Qarni) adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Uwais al-Qarni begitu terpuji, salah satunya karena baktinya yang luar biasa pada ibunya yang lumpuh. Ia merawat ibunya yang lumpuh senantiasa dengan kesabaran, ketulusan dan keikhlasan. Uwais al-Qarni mengurus segala kebutuhan ibunya termasuk aktivitas pribadi sehari-hari, bahkan menggendong ibunya kemana pun termasuk sembari menggembalakan ternak milik orang lain yang dititipkan padanya.

Tak ada keluh kesah yang keluar dari lisan Uwais al-Qarni selama merawat ibunya yang sakit. Begitu lemah lembut ia melayani segala kebutuhan ibunya. Uwais al-Qarni merupakan sosok lelaki fakir muslim yang luar biasa dalam adab berbakti pada orang tua. Bahkan mungkin tak tertandingi kesabaran, ketulusan dan keikhlasan Uwais al-Qarni bila dibandingkan generasi muslimin berabad-abad setelah dirinya.

12. Mengutamakan orang tua dibandingkan istri dan anak

Pria yang sudah menikah sering kali mengesampingkan atau bahkan mengabaikan ibunya karena ia telah hidup bersama istri dan anaknya. Hal tersebut telah menjadi sesuatu yang biasa di masa kini, padahal sikap yang demkian sangat bertentangan dengan adab berbakti pada orang tua dalam ajaran Islam. Seorang anak lelaki tetap berkewajiban berbakti pada orang tuanya, terutama ibunya meskipun dia telah menikah. 

Anak laki-laki wajib memperhatikan, menyayangi, memenuhi segala kebutuhan dan tentunya menjalankan apapun perintah kebaikan yang disuruh oleh ibunya (terkecuali perintah yang menyimpang dari syariat agama). Telah jelas salah satu adab berbakti pada orang tua dalam hadits shahih HR. Muslim, bahwa Aisyah pernah bertanya pada Rasulullah Muhammad shallalllahu alaihi wasallam, 

Siapa yang paling berhak atas seorang wanita?” 

Nabi Muhammad shallalllahu alaihi wasallam menjawab, “Suaminya” (Jika ia telah menikah). 

Aisyah kemudian bertanya lagi, “Siapa yang paling berhak atas seorang laki-laki?

Nabi Muhammad shallalllahu alaihi wasallam menjawab kembali, “Ibunya” (Sebelum maupun sesudah menikah)

Bertentangan dengan adab berbakti pada orang tua, dan sungguh sebuah kedurhakaan apabila seorang istri melarang suaminya memberi nafkah kepada ibu mertuanya. Kedurhakaan pula bila si suami menuruti tindakan salah istrinya tanpa bisa mengajari istrinya. Bersikap adil menafkahi ibu dan menafkahi istri, justru insyaAllah akan menjadikan rezeki suami bertambah. Sekaligus menjadi ladang pahala, karena si suami menjadi anak yang berbakti dan si istri menjadi menantu yang berbakti.

Dalam Al Qur’an surah Al Kahfi ayat 109, Allah Ta’ala berfirman :

قُلْلَوْكَانَالْبَحْرُمِدَادًالِكَلِمَاتِرَبِّيلَنَفِدَالْبَحْرُقَبْلَأَنْتَنْفَدَكَلِمَاتُرَبِّيوَلَوْجِئْنَابِمِثْلِهِمَدَدًا

Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

Ayat tersebut menunjukan betapa luasnya ilmu yang bersumber dari kalimat-kalimat Allah dan Rasul-Nya. Namun sayangnya sangat sedikit yang baru kita pahami dan terapkan dalam keseharian. Hanya sebagian kecil pula penjelasan mengenai berbakti pada orang tua yang dapat diuraikan dalam artikel bersambung ini. Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita. Wallahu’alam bish shawwab.

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 3)

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 3)

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 3)
Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 3)

Sebagai umat Islam wajib bagi kita berusaha meningkatkan ketakwaan pada Allah Ta’ala. Caranya mengamalkan diperintahkan-Nya dan ajaran Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus menjauhi apapun yang dilarang. Termasuk berupaya menerapkan adab berbakti pada orang tua.

Baca Juga: Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 2)

Adab Anak Kepada Kedua Orang Tua

Masih melanjutkan pembahasan artikel sebelumnya dengan judul “Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 1) dan (Bagian 2)”.

7. Seorang anak wajib bersungguh-sungguh menginginkan kebaikan bagi orang tuanya 

Dalam adab berbakti pada orang tua setiap anak sholih dan sholihah harus selalu mengharap kebaikan bagi orang tuanya dan wajib bersungguh-sungguh. Meskipun orang tuanya tergolong kafir, maka anak sholih atau sholihah hendaknya selalu berharap agar orang tuanya memperoleh hidayah dan terbebas dari adzab. Hendaknya anak tak bosan berusaha menasehati orang tuanya yang kafir hingga dia wafat. Namun tentunya tetap dengan tutur kata yang baik, sopan dan lembut.

Mari kita teladani salah seorang kekasih Allah yakni Rasul Ibrahim ‘alaihis salam dalam adab berbakti pada orang tua beliau. Nabi Ibrahim tak henti-hentinya dan tak bosan menasehati orang tuanya menggunakan perkataan lembut dan tetap menjunjung sikap sopan. 

Beliau ‘alaihis salam menasehati ayahnya menggunakan panggilan lembut yakni ‘Yaa Abati’. Panggilan tersebut dikenal sebagai panggilan lembut bagi orang Arab. Kisah beliau ‘alaihis salam disampaikan dalam Al Qur’an surah Maryam ayat 41-45 sebagai berikut ini :

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (41) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا (42) يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا (43) يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (44) يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (45)

“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quraan) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.”

Rasul Ibrahim ‘alaihis salam meminta ampunan pula kepada Allah untuk orang tuanya sesudah kematiannya. Beliau memohon ampunan untuk orang tuanya dengan bersungguh-sungguh. Namun memohon pengampunan dosa bagi orang tua kafir yang sudah meninggal sudah dilarang berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an surah At Taubah ayat 114 :

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

8. Segera Memenuhi Perintah Orang Tua

Adab berbakti pada orang tua selanjutnya ialah wajib menyegerakan apabila orang tua memberikan perintah. Kita teladani sebuah kisah adab berbakti pada orang tua dari seorang ulama besar yang tertulis di al-Birr wasilah yang merupakan karya Imam Ibnu Jauzi. Ulama tersebut yakni Haiwah binti Syuraih yang pada suatu hari sedang mengajar, kemudian ibu beliau memanggilnya, “Haiwah, berdirilah! Berikan makan gandum pada ayam-ayam”. Ketika mendengar panggilan perintah ibunya, beliau segera berdiri lalu meninggalkan murid-murid yang diajarnya.

Teladan lainnya adalah Usamah bin Zaid. Muhammad bin Sirin menyampaikan bahwa di masa khalifah Ustman bin Affan, 1 pohon kurma harganya mencapai 1000 dirham. Meski demikian, salah seorang sahabat Rasul bernama Usamah bin Zaid tetap membeli 1 pohon kurma kemudian memotong lalu mengambil jamarnya. (Jamar adalah bagian di batang kurma, berwarna putih yang tepat berada di jantung sebuah pohon kurma). 

Kemudian jamar tersebut disuguhkan Usamah bin Zaid kepada ibu beliau. Melihat tindakannya, banyak orang bertanya padanya, “Usamah kenapa engkau melakukan itu, padahal engkau tahu bahwa harga 1 pohon kurma begitu mahal 1000 dirham.” 

Baca Juga: Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 4)

Usamah bin Zaid menjawab, “Sebab ibuku yang meminta jamarnya pohon kurma. Apabila ibuku meminta suatu permintaan padaku yang dapat ku berikan, maka pastilah akan ku berikan.” Kisah teladan adab berbakti pada orang tua Usamah bin Zaid ini tercatat dalam Shifatush Shafwah.

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 2)

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 2)

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 2)
Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 2)

Kasih sayang orang tua sepanjang masa, sedangkan kasih sayang seorang anak hanyalah sepanjang galah. Apakah adab berbakti pada orang tua kita sudah sesuai dengan ajaran Islam? Sebagaimana tokoh-tokoh teladan islam di masa lalu.

Baca Juga : Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 1)

Adab Anak Kepada Kedua Orang Tua

Melanjutkan pembahasan sebelumnya yang berjudul “Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 1)”, berikut ini ulasan selanjutnya :

4. Mendahulukan orang tua sebelum diri sendiri

Sebagaimana dalam sebuah kisah tentang 3 orang yang terjebak dalam goa dan pintu goa tertutup sehingga mereka tak bisa keluar. Di antara 3 orang tersebut, salah seorang bertawasul dengan amalannya yang berbakti pada orang tua. Dia adalah seorang anak yang selalu mendahulukan orang tuanya daripada dirinya sendiri. 

Dia selalu menyiapkan dan memberi susu untuk orang tuanya setiap hari, bahkan tak membiarkan anak-anaknya minum susu sebelum orang tuanya minum lebih dulu. Apabila orang tuanya sedang tidur, dia tak membangunkan orang tuanya, justru dia bersabar menantikan orang tuanya bangun dan puas tidur nyenyak, barulah ia menyajikan susu. Kisah tersebut disampaikan dalam hadits riwayat Bukhari – Muslim. 

Sebuah kisah teladan adab berbakti pada orang tua lainnya terdapat dalam kitab Uyunul Akhyar – Imam Ibnu Qutaibah : 

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib merupakan salah seorang yang dikenal sangat berbakti pada ibunya. Suatu hari ada orang bertanya kepadanya,“Engkau paling berbakti pada ibumu, tetapi kami tak pernah melihat kau makan dengan ibumu.” 

Lalu Beliau menjawab orang tersebut, “Aku takut bila makan bersama ibu, kalau-kalau tanganku ini mengambil salah satu hidangan yang telah dilirik oleh ibu. Apabila demikian, maka aku telah mendurhakainya.”

5. Meminta maaf pada orang tua

Salah satu adab berbakti pada orang tua ialah selalu meminta maaf setiap kali berbuat kesalahan atau menyakiti hati orang tua. Tak ada manusia biasa yang sama sekali tak pernah berbuat kesalahan pada orang tuanya. Oleh karena itu, biasakan untuk selalu meminta maaf pada orang tua. Jangan menunggu idul fitri untuk meminta maaf. Mintalah maaf sesegera mungkin karena kita tak pernah tahu kapan nafas kita akan berhenti, maupun kapan nafas orang tua kita akan berhenti. 

Teladani sisi baik saudara-saudara Yusuf yang meminta maaf pada orang tua mereka karena perbuatan salah mereka. Di dalam Al Qur’an surah Yusuf ayat 97 difirmankan bahwa saudara-saudara Yusuf menyampaikan :

يَاأَبَانَااسْتَغْفِرْلَنَاذُنُوبَنَاإِنَّاكُنَّاخَاطِئِينَ

“Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)“.

6. Ketika orang tua mencela, jangan membalas

Imam Ibnu Katsir menyampaikan adab berbakti pada orang tua bahwa “Janganlah kau perdengarkan kepada keduanya (orang tua) kata-kata buruk. Bahkan jangan perdengarkan kata-kata menggerutu karena kata tersebut merupakan serendah-rendahnya dari kata-kata jelek.”

Teladani bagaimana sikap Bilal bin Abdullah bin ‘Umar ketika ayahnya mencelanya, yang mana kisahnya tertulis dalam shahih Muslim no.442 yang diriwayatkan dari penuturan Salim bin Abdullah bin Umar. Kala itu bahwasanya keturunan Umar yakni Abdullah bin ‘Umar menyampaikan, “Aku pernah mendengar Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan sabda :

لاَتَمْنَعُوانِسَاءَكُمُالْمَسَاجِدَإِذَااسْتَأْذَنَّكُمْإِلَيْهَا

“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian, maka izinkanlah mereka.”

Lalu anaknya yakni Bilal bin Abdullah bin ‘Umar berkata :

وَاللَّهِلَنَمْنَعُهُنَّ

“Demi Allah, sungguh kami akan menghalangi mereka.”

Kemudian Abdullah bin Umar memaki anaknya yaitu Bilal bin Abdullah dengan makian yang jelek dan belum pernah di dengar oleh Salim bin Abdullah. 

Selanjutnya Abdullah bin Umar menyampaikan bahwa aku mengabarkanmu sebuah hadits Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan engkau justru mengatakan ‘Demi Allah, kami akan mengahalangi mereka!!’”

Dari kisah dalam hadits shahih tersebut, dapat kita ambil pelajaran. Bahwa di saat ayahnya memarahi dan memaki Bilal, maka ia bersikap diam dan tidak membalas makian ayahnya. Dan sepatutnya anak mengintrospeksi diri. Sering kali orang tua marah bahkan hingga memaki anaknya, mungkin karena anaknya memang melakukan kesalahan. Sebagaimana Bilal yang melakukan kesalahan karena menyelisihi sabda Rasulullah saat disampaikan ayahnya.

Baca Juga: Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 3)

Walau semarah apapun orang tua pada anaknya, adab berbakti pada orang tua ialah terlarang anak membalas orang tuanya. Wajib bagi anak untuk mengintrospeksi diri, menjaga lisan dan meminta maaf jika ia bersalah. Namun apabila oang tua melakukan kesalahan, wajib bagi anak menyampaikan kebenaran dengan tutur kata yang baik dan berlemah lembut. Menunggu saat yang tepat untuk menyampaikan kebenaran ketika orang tua dalam suasana hati yang tenang.

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 1)

Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 1)

Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam?
Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam?

Angka usia kita memang bertambah, kita memang telah bertumbuh dewasa bahkan telah berumah tangga. Namun sudahkah berbakti dengan benar pada orang tua? Ada banyak dari kita yang merasa telah berbakti hanya dengan memberikan uang bulanan sekitar 1 atau 2 juta. Namun ternyata amat jauh bakti tersebut dari adab berbakti pada orang tua yang seharusnya.

Adab Anak Kepada Kedua Orang Tua

Lalu bagaimanakah adab berbakti pada orang tua dalam ajaran islam?

1. Menjaga ucapan dan menjaga cara memandang

Salah satu bentuk adab berbakti pada orang tua dalam ajaran islam ialah dengan tak memberikan pandangan tajam atau sinis. Selain itu, seorang anak tidak boleh meninggikan suara, membentak, terlebih lagi menghardik orang tuanya. Bahkan berkata “ah!” maupun ucapan-ucapan bernada kesal lainnya seperti “huh!”, “hadeh!”, “Ish!”, “Yaelah!” dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Qur’an surah Al-Israa’ ayat 23-24 :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” 

2. Tidak menyela ketika orang tua berbicara

Meskipun engkau lebih pandai, pendidikanmu lebih tinggi, pengetahuanmu lebih luas dan segala kelebihanmu lainnya dibandingkan orang tuamu, pastikanlah engkau berusaha merendahkan diri dihadapan orang tua. Salah satu adab berbakti pada orang tua yakni tidak menyela ketika orang tua sedang berbicara. Adab ini sebagaimana hadits riwayat Bukhari no. 72 – Muslim no. 2811 :

كُنَّا عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَأُتِىَ بِجُمَّارٍ فَقَالَ « إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ » . فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِىَ النَّخْلَةُ ، فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ فَسَكَتُّ ، قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « هِىَ النَّخْلَةُ »

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,“Dulu kami berada di sisi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian didatangkanlah bagian dalam pohon kurma.  Lalu beliau mengatakan, “Sesungguhnya di antara pohon adalah pohon yang menjadi permisalan bagi seorang muslim.” Aku (Ibnu ‘Umar) sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma. Namun, karena masih  kecil, aku lantas diam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Itu adalah pohon kurma.” 

Seperti itulah sikap Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau tidak menyela atau mendahulukan pembicaraannya bila ada orang yang lebih tua usianya sedang berbicara. Padahal sebenarnya, beliau telah mengetahui dan mampu menjawab. Dari sinilah, tak diragukan lagi bahwa demikianlah seharusnya bila mereka sedang berbicara di hadapan kita.

3. Tidak duduk santai bila orang tua sedang bediri di hadapan kita dan tidak mendahului saat berjalan

Dinukil dari Kitab Birrul walidain – Imam Ibnu Jauzi : “Sufyan bin Uyainah menyampaikan bahwa ada seorang pulang dari bepergiannya, lalu dia sampai di rumah bertepatan dengan ibundanya yang berdiri sedang mengerjakan shalat, maka orang tersebut tidak duduk dan tetap berdiri menunggu ibunya yang masih berdiri. Mengetahui itu, sang ibu memanjangkan shalatnya supaya semakin besar pahala bakti anaknya.”

Pelajaran yang dapat dipetik berhubungan adab berbakti pada orang tua, bahwa dilarang pula duduk santai disaat orang tua justru berdiri. Termasuk tidak mendahului orang tua saat berjalan, terkecuali telah meminta izin dengan alasan yang kuat dan bermaksud baik, sebab hal tersebut juga menunjukan kesopan santunan dalam bersikap pada orang tua.

Baca Juga : Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 2)

InsyaAllah pembahasan ini akan bersambung pada artikel berjudul “Bagaimanakah Adab Berbakti Pada Orang Tua Sesuai Ajaran Islam? (Bagian 2)”